Topeng Harimau dan Hiasan Bulu Merak, Terukirnya Sebuah Harta

"Kesenian adalah suatu hasil murni yang muncul dari jiwa bangsa itu sendiri,
karena itulah nilai seni lebih berarti dari sebatang emas."

“Topeng Harimau dan Hiasan Bulu Merak” Terdengar tidak asing bukan bagi kalian. Kesenian ini lebih dikenal dengan panggilan “Reog Ponorogo”. Kesenian ini memiliki simbolis yang diterapkan melalui warna-warna yang sangat menarik yaitu:

  • Warna Merah menyimbolkan Nafsu Amarah, potensi/dorongan/hasrat/nafsu yang belum terkendali.
  • Warna Putih menyimbolkan Nafsu Mutmainnah, potensi/dorongan/hasrat/nafsu yang sudah terkendali/sesuai perintah Tuhan.
  • Warna Hitam menyimbolkan Nafsu Lawwamah, potensi/dorongan/hasrat/nafsu yang berusaha dikendalikan sesuai perintah Tuhan.
  • Warna Kuning menyimbolkan Nafsu Sufiyah, potensi/dorongan/hasrat/nafsu yang terkendali oleh Duniawi.

Kesenian ini juga salah satu kesenian budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO secara Internasional. Jadi kita patut berbangga untuk Indonesia. Baiklah, itu adalah kilasan tentang Reog. Kita akan menelusuri Reog lebih mendalam lagi. Silakan disimak!

SEJARAH SENI REOG PONOROGO

Tahun 1920 – Reog Ponorogo, terdapat penari Kuda Kepang dan Bujang Ganong.

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok Warok dan Gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Singkat cerita, saat Majapahit runtuh oleh Demak, maka Demak juga menghabisi Kutu. Pasukan Demak yang dipimpin Katong berhasil menduduki Ponorogo. Selanjutnya mitos mitos reog Kutu dikemas ulang oleh Katong yang menceritakan iring-iringan Prabu Klana Sewandono (Wengker) hendak mempersunting Dewi Songgolangit (Kediri). Nafas satiris dalam mitos mitos Reog Kutu dengan sengaja dilenyapkan oleh Katong, sebab antara Katong dan Brawijaya V ternyata hubungan bapak-anak. Karena Katong sebagai pemangku sejarah yang dominan dan berkuasa, maka berlakulah hukum kekuasaan, yakni yang menang yang akan membentuk sejarah.

Pada tahun 1965-1971 saat pemerintah menumpas PKI, BRP dibubarkan dan imbasnya membuat Reog-Reog lain ikut ujungnya. Ribuan unit Reog terpaksa dibakar akibat terpaan isu, kesenian ini menjadi penggalak komunis dalam mengumpulkan dan mengerakan massa. Para pelaku kesenian ini akhirnya menjadi pekan atau pencari rumput. Beruntung di akhir 1976, Reog Ponorogo kembali dihidupkan dengan pendirian INTI (Insan Tagwa Illahi Ponorogo). Belajar dari sejarah ini, banyak pelaku seni ini yang tidak ingin lagi ditunggangi. Biarlah Reog menjadi milik rakyat tanpa batasan dan diklaim milik golongan tertentu.

Reog Ponorogo terus berkibar hingga sekarang, bahkan sejumlah pengembangan bentuk dalam pengarapan kesenian ini banyak dilakukan. Terutama dengan menjamurnya lembaga formil untuk mengembangkan kesenian Reog dalam bentuk konterporer. Ini soal kesenian yang terlanjur dicap berbau mistis ini, upaya pelestarian dan pemulihan melalui festival rutin tahunan terkadang justru mengorbankan kemurnian dan kekhassan kesenian itu sendiri. Padahal unsur mistis, justru merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.

Banyak hal yang terkesan mistis dibalik kesenian Reog Ponorogo. Warok misalnya, adalah tokoh sentral dalam kesenian ini yang hingga kini menyimpan banyak hal yang cukup kontroversial. Tidak sedikit orang yang menganggap profil Warok telah menimbulkan citra kurang baik atas kesenian ini. Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara yang baik dan jahat dalam cerita kesenian Reog. Warok Tua, adalah tokoh pengayom, sedangkan Warok Muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Kendati demikian, kehidupan Warok sangat bertolak belakang dengan peran yang mereka mainkan di pentas.

Konon Warok hingga saat ini dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan Warok, seperti pendekatannya dengan minuman keras dan dunia preman. Untuk menjadi Warok, perjalanan yang cukup panjang, lama, penuh liku dan sejuta goda. Paling tidak itulah yang dituturkan tokoh Warok Ponorogo, Mbah Wo Kucing. Untuk menuju kesana, harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati. Warok Tua, sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang Warok dimintai nasehatnya atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Petuah yang disitir seorang warok tua sebenarnya sudah sering didengar namun kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah bertenaga.

Dulunya Warok dikenal mempunyai banyak Gemblak, yakni lelaki belasan tahun yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara Gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman Reog. Seolah menjadi kewajiban setiap Warok untuk memelihara Gemblak agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Apalagi ada kepercayaan kuat di kalangan Warok, hubungan intim dengan perempuan bahkan dengan istri sendiri, bisa menjadi pemicu lunturnya seluruh kesaktian. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan adalah ciri khas relaksi khusus antara Gemblak dan Waroknya.

PEMENTASAN SENI REOG PONOROGO

Reog Ponorogo – Kesenian Indonesia

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2-3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari Jaran Kepang atau Jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari Kuda Lumping.

Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau Ganongan. Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.

Adegan terakhir adalah Singa Barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

TOKOH-TOKOH DALAM SENI REOG PONOROGO

Jathil

Jathilan

Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tarian ini dibawakan oleh penari di mana antara penari yang satu dengan yang lainnya saling berpasangan. Ketangkasan dan kepiawaian dalam berperang di atas kuda ditunjukkan dengan ekspresi atau greget sang penari.

Warok

Warok Ponorogo

Warok yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah (orang yang kaya akan wewarah). Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik. Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).

Barongan(Dadak merak)

Barongan (Dadak Merak)

Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong. Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik-manik (tasbih). Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reog. Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram.

Klono Sewandono

Prabu Klono Sewandono

Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut. Pusaka tersebut digunakan untuk melindungi dirinya. Kegagahan sang Raja di gambarkan dalam gerak tari yang lincah serta berwibawa.

Bujang Ganong (Ganongan)

Bujang Ganong (Ganongan)

Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di tunggu – tunggu oleh penonton khususnya anak-anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.

Salah satu Tarian Reog Ponorogo – “Festival Reyog Nasional ke 17 & 21 di Grebeg Suro Ponorogo 2010 & 2014”

Source:

http://id.wikipedia.org/wiki/Reog_%28Ponorogo%29

http://munjalindra.com/2008/12/24/sejarah-reyog-ponorogo-antara-mistis-dan-seni-budaya.html

https://www.facebook.com/permalink.php?id=245916615448573&story_fbid=462154567158109

https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100822022540AAyBQhH

https://rrosari.wordpress.com/2010/07/27/tiga-tingkatan-nafsu-manusia/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s