Konservasi Arsitektur : Candra Naya, Cagar Budaya Jakarta (Part 2)

Related image

 

Candra Naya – Kota Tua Jakarta

Jl. Gajah Mada No.188, RT.3/RW.5, Kota Tua, Glodok, Tamansari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11120

Bangunan Candra Naya berada pada kawasan bangunan mix use, yaitu gabungan antara bangunan komersial dan permukiman yang padat. Apabila dilihat dari kondisi lapangan yang ada, lahan tersebut mempunyai keunikan karena di dalamnya terdapat suatu bangunan bersejarah yang dilindungi oleh Monumente Ordonantie tahun 1931 nomor 238, yang kemudian diperkuat dengan Keputusan Menteri P dan K nomor 0128/M/1988 tanggal 27 Februari l988. Monumente Ordonantie 1931 berisi tentang penetapan beberapa gedung, museum, mesjid dan gereja sebagai benda cagar budaya yang dilindungi Negara.

Berdasarkan Undang-undang nomor 5/1992 tanggal 21 Maret 1992 tentang benda cagar budaya maka pada tingkatan daerah diterbitkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 475/1993 tanggal 29 Maret 1993 tentang Penetapan-penetapan Bangunan Bersejarah sebagai Benda Cagar Budaya. Pada SK Gubernur KDH DKI Jakarta tertanggal 29 Maret 1993 Gedung Candra Naya termasuk dalam daftar bangunan cagar budaya di wilayah DKI Jakarta, Kotamadya Jakarta Barat dengan nomor urut 30 (hal ini merupakan penyempurnaan Keputusan Gubernur DKI CB 11/1/12/27 tertanggal 10 Januari 1972, dimana Gedung Candra Naya ditetapkan sebagai cagar budaya yang ditanda tangani oleh PJS Gubernur DKI Ali Sadikin dengan tembusan antara lain Presiden Republik Indonesia, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Dengan adanya bangunan Candra Naya yang ketinggiannya dari peil jalan yang ada di depannya berkisar 50 cm serta mempunyai nilai historis yang tinggi dan ditunjang dengan keluarnya izin membangun bangunan mix use pada lahan tersebut merupakan hal yang sangat unik dan aneh, sehingga dalam pelaksanaannyapun mempunyai perlakuan konservasi yang sangat istimewa.


Besaran Lahan

Luas lahan sekitar 2,4 ha dengan batasan lahan, yaitu:

  • Utara : Pertokoan
  • Selatan : Pertokoan
  • Timur : Jalan Gadjah Mada
  • Barat : Perkampungan

Pada saat mulai mendata lapangan tahun 1994 bangunan belakang yang terdiri 2 lantai sudah tidak ada. Jika kebanyakan rumah-rumah Cina di Jakarta adalah milik para pedagang (sehingga bentuknya sederhana), maka gedung Candra Naya ini memiliki nilai lebih karena pemiliknya yang terdahulu adalah seorang tokoh masyarakat yang kaya dan terpandang sehingga bangunannya lebih besar dan berbeda bentuk dari rumah Cina kebanyakan, dengan halaman yang luas, serta bagian dalam dan luar bangunan yang dihiasi dengan ornamen-ornamen yang rumit dan sangat indah.

Screenshot_1

Perletakkan Bangunan Candra Naya pada Site (Dok. 1995)

Kolam Teratai

Image result for candra naya kolam teratai

Penataan ruang luarnya terlihat seperti rumah-rumah pembesar pada umumnya dimasa lampau. Pada bagian depan terdapat dua buah gardu jaga yang terletak di kanan dan kiri jalan masuk dan keluarnya melewati kedua gardu tersebut, berbentuk huruf U terbalik. Pada bagian depan dan belakang rumah terdapat taman yang cukup luas. Pada taman belakang terdapar sebuah kolam yang dihiasi dengan bunga teratai sehingga disebut sebagai kolam teratai (pada saat peneliti masuk ke lapangan kolam teratai tersebut sudah tidak ada lagi).

Ruang-ruang Dalam

Bangunan rumah Sang Mayor dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

  • Ruang umum untuk menerima tamu

 

Bagian ini dimulai dengan teras kemudian masuk ke dalam ruang penerima tamu. Pada ruang ini terdapat sebuah ruang tamu yang diapit oleh dua buah ruang yang simetris di kanan dan kirinya. Ruang ini adalah tempat kerja atau kantor Mayor Khouw Kim An. Disinilah Sang Mayor menerima rekan-rekan kerjanya yang menyangkut masalah bisnis dan pemerintahan setempat.

Pada keseluruhan bagian inilah tamu-tamu dan rakyat jelata diterima dan boleh masuk. Sedangkan untuk bagian ruang selanjutnya hanya keluarga atau tamu yang sudah akrab yang diperkenankan masuk.

  • Ruang semi privat, dimana tamu akrab dapat mengikuti sembahyang

Antara ruang umum dan ruang depan dipisahkan oleh sebuah courtyard (sekarang bagian courtyard ini ditutup oleh atap tembus pandang atau skylight). Berhadapan dengan courtyard ini terletak sebuah ruangan yang dilengkapi altar untuk memuja para dewa-dewi. Pada bagian ini hanya tamu-tamu akrab dan keluarga yang diperkenankan masuk. Ruang sembahyang ini diapit oleh dua buah ruang di sebelah kanan dan kirinya, sejajar dengan ruang kantor Mayor Khouw Kim An di depannya. Untuk menuju ke ruang-ruang berikutnya dapat melalui pintu-pintu pada kedua sisi courtyard atau melalui pintu yang berada di belakang ruang sembahyang. 

  • Ruang privat/pribadi, sebagai tempat hunian bagi keluarga

Bagian ini terdiri dari dua lantai. Pada lantai satu terdapat sebuah courtyard dengan tamannya, sebuah beranda yang cukup besar sebagai perantara courtyard dengan kamar-kamar utama yang disusun berjajar. Beranda tadi juga berhubungan langsung dengan ruang sembahyang yang dilengkapi altar untuk memuja arwah para leluhur. Ruang sembahyang ini diapit oleh kamar tidur utama, dan salah satunya adalah kamar Mayor Khouw Kim An. Pada lantai dua juga terdapat deretan kamar-kamar seperti pada lantai satu. Beranda berfungsi sebagai tempat dudukduduk dan berkumpul keluarga atau sanak keluarga terdekat serta tamu-tamu yang sudah sangat akrab. Jika ada pesta atau perayaan tertentu, maka kaum wanita hanya boleh mengikuti jalannya pesta pada beranda ini dan tidak diperkenankan masuk ke ruang depan.

  • Ruang service berupa dapur, ruang bagi para selir dan anak-anak

 

Bagian ini terdapat di kanan kiri ruang utama, Ruang service dapat dicapai melalui ruang semi public atau langsung dari pintu samping di sisi kanan dan kiri pintu masuk utama. Pintu samping ini biasanya dipakai untuk menerima tamu-tamu para istri atau selir-selir pada masa Khouw Tjeng Tjoan. Pada bagian depan terdapat dapur sedangkan dibelakangnya terdapat ruang penerima tamu yang kecil bagi para isteri. Setelah itu tersusun ke belakang deretan kamar-kamar bagi istri-istri dan anakanak mereka. Antara ruang service dan ruang privat dihubungkan oleh sebuah koridor kecil yang memotong courtyard samping.

  • Courtyar 

Untuk memisahkan ruang tamu yang terletak di depan dan ruang untuk sembahyang di belakangnya, terdapat ruang yang diberi atap tembus pandang atau skylight (pada masa rumah itu ditempati keluarga Khouw, ruang skylight tersebut berupa courtyard). Antara ruang sembahyang tadi dan hunian untuk keluarga dipisahkan lagi oleh courtyard yang lebih besar dari yang depan (selanjutnya disebut courtyard utama). Ruang penerima tamu dan ruang service yang berada di sisi kiri dan kanan dipisahkan oleh courtyard yang memanjang sejajar dengan bangunan service tersebut. Ruang-ruang utama yang ada, ditata menghadap courtyard utama sehingga semua kamar tidur mempunyai pandangan (view) ke arah courtyard tersebut. Di dalam courtyard utama terdapat dua pohon yang ditanam dalam wadah yang berbentuk segi delapan dan berada pada posisi sejajar sehingga taman lebih menarik dan indah bila dipandang dari segala sisi. Dengan adanya courtyard ini udara segar dapat masuk ke ruang-ruang yang ada disekitarnya secara leluasa. Selain dua courtyard utama terdapat dua courtyard yang terletak memanjang di kanan dan kiri masa bangunan utama sejajar sumbu untuk memisahkan ruang-ruang service dengan ruang – ruang dalam massa bangunan utama. Antara courtyard utama di belakang dengan courtyard samping dihubungkan secara visual oleh jendela bulat (dikenal dengan sebutan jendela bulan/moon gate) sehingga ruang-ruang tampak saling berkesinambungan (tidak terputus) satu dengan yang lainnya. 

Ruang-ruang di dalam rumah yakni ruang penerima tamu, ruang sembahyang, courtyard utama dan ruang tamu ditata sepanjang satu sumbu utama. Sedangkan ruang belakang dan courtyard sisi ditata sepanjang satu sumbu juga, sumbu ini sejajar dengan sumbu utama di kanan dan kirinya. Oleh karena itu dihasilkan denah yang simetris. Ruang utama ditata memanjang, sedang ruang service ditata tegak lurus ruang utama. 

Atap Melengkung

IMG_20160425_212622

Struktur yang paling istimewa pada rumah Sang Mayor terlihat pada susunan rangka atapnya yang disebut “Tou-Kung”. Seperti rumah berlanggam Cina lainnya, bangunan Candra Naya juga memiliki bentuk atap yang melengkung dan tirisan yang ditopang oleh struktur kayu. Rangka kayu terdiri dari tiang dan balok sampai ke bubungan atap. Balok gording bulat memanjang yang menahan kaso (disebut purlin) diletakkan sepanjang sisi miring rangka atap. Kaso-kaso tersebut berbentangan pendek dari purlin ke purlin. Dengan memanipulasi tinggi dan lebar rangka, berbagai ukuran dan lengkung atap dapat dihasilkan. Bentuk atap lengkung memungkinkan genteng semi selindris tersusun dengan rapi. Fungsi dari ujung atap yang melengkung ke atas adalah untuk memasukkan sinar matahari ke ruang dalam melalui jendela bulat yang ditempatkan pada bagian atas dinding samping bangunan. Untuk membuat atap lengkung tersebut diperlukan penopang yang dapat menahan atap supaya tidak turun, sehingga bentuknya menjorok ke luar dari kuda-kuda. Hal ini dapat dicapai dengan bentuk struktur TouKung (bracket set). Tou-Kung berfungsi untuk memindahkan beban bagian horisontal ke bagian vertikal di bawahnya (memindahkan beban dari balok ke kolom). Satu set Tou-Kung terdiri dari sejumlah Tou (blok “tangan”), Kung (lengan), dan Ang (bagian yang miring). Unsur Kung terjejer berturut-turut membentuk sebuah susunan yang disebut T’iaoI. Untuk menjaga agar pertemuan antara balok dan kolom tetap siku, dipakai bracket penahan berupa ukiran motif flora.

Jendela Bulan

29-03-17_22.40_.21Pada_tahun_1962_Sin_Ming_Hui_berganti_nama_menjadi_Tjandra_Naja_.jpg

Pintu-pintu utama di rumah Sang Mayor disusun menurut satu garis sumbu utama. Oleh karenanya antara satu pintu dengan pintu yang lainnya akan terletak berhadapan. Pintu-pintu tersebut memiliki dua daun pintu yang selalu dihiasi dengan tulisan–tulisan huruf Cina yang isinya berupa sajak yang memiliki makna tertentu. Selain pintu utama tadi terdapat pintu yang berupa panel kayu berukir. Yang paling menarik dari rumah ini adalah terdapat jendela berbentuk bulat berukuran besar, yang terletak pada dinding pemisah antara courtyard samping dengan courtyard utama. Jendela ini banyak terdapat pada rumah-rumah berlanggam Cina lainnya, yang dikenal dengan sebutan Jendela Bulan (Moon Gate). Jendela tersebut berfungsi sebagai penghubung visual antara dua ruangan yang dibatasinya. Selain itu terdapat juga jendela dalam bentuk lain. Ada yang berupa jendela krepyak (dua daun jendela) yang dilengkapi dengan teralis besi, atau jendela dengan dua daun dari panel kayu biasa serta jendela lipat dua daun dengan hiasan bunga yang dilengkapi dengan jendela kaca sorong. Pada bagian-bagian tertentu jendela-jendela tersebut dilengkapi dengan tirisan berkonsul besi berukir untuk melindunginya dari hujan dan panas.

Dinding Struktural

Tidak ada struktur lain yang lebih unik dibanding atap tadi. Seperti pada bangunan kuno lainnya maka rumah Sang Mayor memakai dinding sebagai struktur. Oleh karena itu dinding yang ada berukuran sangat tebal (mencapai 30 cm). Kolom-kolom yang ada tidak disusun menurut modul tertentu tapi rata-rata ditata mengikuti ukuran kelipatan 3, 6, atau 9. Kolom yang ada selalu menyatu dengan struktur atap (kuda-kuda atau konsul) atau menjadi bagian dari panel pintu, sehingga tidak akan dijumpai kolom yang berdiri sendiri.


Ragam Hias

  • Penolak Bala

Pa Kua adalah hiasan yang terletak di pintupintu utama, berfungsi sebagai pengetuk pintu (seperti pada rumah-rumah kuno pada umumnya). Benda ini berbentuk segi delapan, Pa Kua menggambarkan empat penjuru mata angin dan empat penjuru sekundernya. Pa Kua di anggap mempunyai kekuatan mengusir roh jahat dan pengaruh buruk yang merupakan ancaman bagi seisi rumah. Pa Kua pada pintu-pintu utama ternbuat dari besi yang dicat warna emas. Selain pada pintu bentuk segi delapan ini juga dipakai pada bak pohon pada taman di bagian courtyard utama.

  • Jamur Linchi

Hiasan ini terdapat pada penutup pintu masuk utama (menjadi bagian pada ornamen Pa Kua dan menghiasi anggota tambahan di bagian atas kuda-kuda. Selain itu terdapat pula pada panel-panel pintu. Jamur ini melambangkan umur yang panjang.

  • Buku, Papan Catur, Kecapi dan Gulungan Lukisan

Ragam hias ini terdapat pada balok di bawah kuda-kuda (skylight) dan teras depan. Melambangkan pemilik rumah adalah seorang cendikiawan dan kaya raya.

  • Makhluk Surgawi

Hiasan naga terdapat pada kuda-kuda (menghadap ke Utara dan Selatan), panel-panel di atas pintu ruang-ruang sembahyang. Hiasan naga pada kuda-kuda berupa ukiran tiga dimensi yang bermotif abstrak yang disebut dengan Liong. Sedangkan pada panel-panel pintu berupa ukiran dua dimensi dengan bentuk naga sebenarnya yang dicat dengan warna emas.


Sumber:
CANDRA NAYA ANTARA KEJAYAAN MASA LALU DAN KENYATAAN SEKARANG CANDRA NAYA ANTARA KEJAYAAN MASA LALU DAN KENYATAAN SEKARANG (Hasil Penelitian tahun 1994- 1998) – Naniek Widayati Staf Pengajar Jurusan Arsitektur – Universitas Tarumanagara Jakarta
https://letsgobro.wordpress.com/2016/06/18/cerita-rumah-candra-naya-dalam-5-menit/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s