Konservasi Arsitektur : Candra Naya, Cagar Budaya Jakarta

Konservasi merupakan istilah payung bagi semua kegiatan pelestarian pada berbagai tingkat perubahan. Pengertian konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandung terpelihara baik. Konservasi dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan dan sesual dengan situasi dan kondisi setempat dapat pula mencakup preservasi, restorasi, rekonstruksi,  adaptasi/ revitalisasi dan demolisi (Sidharta dan Budihardjo, 1998).

Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan /atau kebudayaan melalui proses penetapan (UU No 11 Tahun 2010). Pelestarian terhadap bangunan bersejarah dapat didefinisikan sebagai suatu upaya memelihara dan melindungi suatu peninggalan bersejarah baik berupa artefak, bangunan, kota maupun kawasan bersejarah lainnya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkannya sesuai dengan fungsi lama atau menerapkan fungsi yang baru untuk membiayai kelangsungan eksistensinya (Akbar dan Wijaya, 2008).

Gedung Candra Naya merupakan salah satu cagar budaya di Jakarta yang terbilang unik. Gedung ini berada di dalam kawasan superblok Green City Square, Jalan Gajah Mada 188, Jakarta Pusat. Awalnya gedung bersejarah ini merupakan hunian Mayor Tionghoa, Khow Kim An.


Sejarah

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_chinese_woning_in_Batavia_Java._TMnr_60009130.jpg

Bangunan Candra Naya didirikan pada abad 19 terletak di jalan Gadjah Mada 188 Jakarta Barat. Bangunan tersebut dahulunya adalah rumah seorang mayor Cina yang bertugas mengurusi kepentingan masyarakat Cina di Batavia pada zaman penjajahan. Bangunan ini setara dengan bangunan yang terletak di jalan Gadjah Mada nomor 168 dan nomor 204. Hal ini terjadi karena ketiga bangunan tersebut dibangun oleh keluarga Khouw Tian Sek yang merupakan tuan tanah pada masa itu untuk diberikan kepada ketiga anak lelakinya.

Setelah Indonesia Merdeka bangunan yang terletak di jalan Gadjah Mada nomor 168 dijadikan sekolah SMA 2, sedangkan yang terletak di nomor 204 menjadi gedung Kedutaan Besar RRC. Sedangkan yang berada di jalan Gadjah Mada nomor 188 menjadi terkenal dengan sebutan bangunan Candra Naya. Bangunan Candra Naya dipakai sebagai rumah tinggal Khouw Tjeng Tjoan, di atas lahan bekas Villa Kroet yaitu sebuah bangunan Belanda abad 18.

Pada salah satu panel lukisan yang menghiasi dinding pada bangunan tersebut terdapat tulisan dalam aksara Cina yang artinya kurang lebih: “Pada tahun kelinci di pertengahan bulan musim rontok dicatat kata-kata ini”, dari tulisan tersebut diketahui bahwa bangunan tersebut dibangun pada tahun kelinci api yang jatuh 60 tahun sekali yaitu pada tahun 1807 dan 1867.Related imageSebenarnya belum dapat dipastikan apakah Khouw Tjeng Tjoan atau ayahnya Khouw Tian Sek yang membangun rumah ini. Apabila dianggap Khouw Tjeng Tjoan sendiri yang membangun rumah itu, dapat dipastikan bangunan tersebut dibangun tahun 1867, mengingat Khouw Tjeng Tjoan lahir sekitar tahun 1808 dan meninggal akhir abad 19. Namun jika Khouw Tian Sek yang dianggap membangun maka kemungkinan bangunan tersebut dibangun tahun 1807 untuk menyambut kelahiran anaknya Khouw Tjeng Tjoan pada tahun 1808.

Adapun kesulitan untuk memperkirakan berdirinya bangunan tersebut karena tidak terdapatnya Nien Hao (tanggal tahun pemerintahan kaisar yang sedang memerintah di Cina) yang mengacu pada tahun pendirian bangunan yang pasti. Tidak diketemukan data mengenai arsiteknya. Fungsi bangunan utama dipakai sebagai bangunan kantor keluarga Khouw Tjeng Tjoan sedangkan bangunan belakang dipakai untuk keluarga. Khouw Tjeng Tjoan mempunyai 14 isteri dan 24 putra. Dan diperkirakan meninggal tahun 1880 an. Khouw Kim An adalah seorang Cina, pengusaha dan bankir yang mewarisi rumah di Gadjah Mada no.188 dari ayahnya Khouw Tjeng Tjoan. Menurut cerita ia baru menempati rumah tersebut pada tahun 1934, sebelumnya ia tinggal di Bogor.

Khouw Kim An lahir di Batavia pada tanggal 5 Juni 1879, dididik pada sekolah Hokkien namun fasih juga berbahasa Belanda. Merupakan salah seorang pendiri Tiong Hwa Hwe Kwan Jakarta pada tahun 1900. Pada tahun 1905 diberi pangkat lieutenant oleh pemerintah Belanda. Tiga tahun kemudian dipromosikan menjadi kapitein dan dua tahun setelah itu diangkat menjadi major pada tahun 1910. Karena pangkat terakhirnya masyarakat pada masa itu menyebut bangunan di Jl. Gajah Mada no. 188 sebagai Rumah Mayor.

Antara tahun 1910-1930, Khouw Kim An menjadi sebagai presiden Dewan Cina (Kong Kwan) di Jakarta. Khouw Kim An dicalonkan sebagai anggota Volksraad tahun 1917 dan diangkat menjadi anggota oleh Belanda antara tahun 1921-1930. Memegang posisi eksekutif pada Dewan Pusat Chung Hwa Hui mulai dari partai tersebut dibentuk tahun 1928 hingga 1942. Chung Hwa Hui merupakan partai politik formal dengan kepemimpinan yang jelas. Pada 44 anggota Dewan Pusat dan pemimpin tingkat cabang, Sebagai anggota Dewan Pusat itu merupakan pengusaha atau professional yang berhasil atau mempunyai hubungan saudara atau keturunan pejabat Cina.

Khouw Kim An sendiri adalah menantu Poa Keng Hek seorang pemimpin masyarakat pendiri Tiong Hwa Hwe Kwan, dan putra seorang kapten Cina. Selain terkemuka dalam masyarakat Khouw Kim An juga seorang pengusaha dan pemegang saham Bataviaasche Bank. Dianugrahi penghargaan berupa medali oleh pemerintah Belanda atas jasa-jasanya pada masyarakat lokal. Setelah Jepang mendarat di Jawa pada tahun 1942, Khouw Kim An ditawan dan meninggal pada tanggal 13 Februari 1945 ketika berada di kamp konsentrasi. Makamnya terdapat dekat kompleks pemakaman keluarga Khouw di Jati Petamburan.

Tidak lama setelah perang dunia berakhir pada hari Minggu 20 Januari 1946 didirikan perkumpulan sosial Sin Ming Hui (Perkumpulan Sinar Baru) yang bertujuan memberikan bantuan dan penerangan bagi orang yang membutuhkan pertolongan akibat perang dengan tugas mewakili masyarakat Tiong Hwa dalam kehidupan sosial di Jakarta. Sejak awal berdirinya, Sin Ming Hui menyewa rumah mendiang Khouw Kim An di Jl. Gajah Mada no.188 sebagai gedung perkumpulan.

Sejak berdirinya Sin Ming Hui telah banyak bekerja untuk kepentingan sosial antara lain:

  • Mendirikan poliklinik (kelak berkembang menjadi RS. Sumber Waras).
  • Perkumpulan olah raga (bulu tangkis, angkat besi, bilyard, kuntao, dll).
  • Pendidikan (sekolah Candra Naya: SD, SMP, SMA, melahirkan Universitas Tarumanagara).
  • Fotografi

Sejak tahun 1965 Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa menganjurkan masyarakat keturunan Cina untuk mengganti nama, setelah itu Sin Ming Hui diubah menjadi Candra Naya. Maka bangunan di Jl. Gajah Mada no. 188 yang ditempati perkumpulan sosial itu hingga kini terkenal dengan sebutan Gedung Candra Naya. Fungsi bangunan ini berubah dari rumah tinggal menjadi kantor yayasan, poliklinik, tempat berlatih olah raga dan sekolah hingga akhir tahun 1992. Pada tahun 1993 kegiatan yayasan ini pindah ke Jl. Jembatan Besi. Dan mulailah proses perencanaan pembangunan mixuse berlangsung. 


Pemanfaatan Bangunan

Sejak 1946 Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui 新明會 (Xin Ming Hui, ‘Perkumpulan Sinar Baru’), yang bertujuan membantu korban Kerusuhan Tangerang 1946, menyewa gedung di Jalan Gajah Mada 188 tersebut sebagai gedung perkumpulan. Pada 1965, Sin Ming Hui berganti nama menjadi Tjandra Naja atas saran dari Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa. Hingga akhir 1992, gedung Candra Naya tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai poliklinik, kantor yayasan, tempat berlatih olahraga, dan sekolah. Di antara 1960-1970-an, Candra Naya sering digunakan sebagai tempat pesta pernikahan. Gedung ini juga menjadi tempat kompetisi pertama yang diadakan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia maupun kompetisi bilyar dan angkat berat pertama di Jakarta.

Pada 1992, Candra Naya dijual kepada Modern Group yang dimiliki oleh Samadikun Hartono. Pada awalnya, oleh pemiliknya, Candra Naya direncanakan untuk direlokasi ke Taman Mini Indonesia Indah, namun Sutiyoso, Gubernur Jakarta pada 2003 tidak menyetujui usulan tersebut; selain itu usulan atas pemindahan ini juga mendapat tentangan keras dari para pecinta bangunan tua yang tidak setuju sebuah bangunan heritage (pusaka) dipindahkan dari habitat aslinya, demi kepentingan bisnis semata. Pada Februari 2012, gedung utama (main building) Candra Naya yang berhasil diselamatkan dipugar dan menjadi bagian dari kompleks hunian dan komersial terpadu, Green Central City (GCC). Kompleks GCC tersebut juga terdiri dari apartemen dan hotel. Bangunan sayap (wings) kiri-kanan, begitu pun gazebo-nya, juga dibangun kembali setelah sebelumnya dibongkar total, sedangkan bangunan belakang (back building) yang berlantai dua dan mempunyai “sayap” di kiri-kanannya (lihat foto) tidak berhasil diselamatkan karena telah dibongkar untuk selamanya.


Arsitektur

Gedung Candra Naya diapit oleh dua gardu jaga di bagian kanan dan kiri. Dulunya di bagian depan terdapat taman yang cukup luas dan di bagian belakang terdapat kolam teratai. Bangunan Candra Naya terdiri dari beberapa ruang sebagai berikut:

  1. Ruang umum untuk menerima tamu dan merupakan kantor Khouw Kim An, terdiri dari bagian teras hingga ruang penerimaan tamu.
  2. Ruang semi-pribadi untuk tamu-tamu akrab. Ruangan ini dipisahkan dari ruang umum dengan adanya sebuah halaman (tianjing) yang ditutup dengan genteng kaca. Setelah halaman tertutup genteng kaca ini terletak suatu ruangan terbuka dengan altar untuk menyembahyangi dewa-dewi. Di kiri-kanan dinding altar terdapat dua buah pintu yang menuju ke sebuah pintu lain yang menerus ke halaman utama. Kedua ruang ini terdapat di bangunan utama (main building)
  3. Ruang pribadi sebagai tempat hunian keluarga terletak di bagian belakang, terdiri dari bangunan dua lantai dengan kamar-kamar tidur terletak berjejer di kedua lantai. Bangunan ini merupakan bangunan belakang (back building)
  4. Ruang pelayan yang berfungsi sebagai dapur, tempat para selir, dan anak-anak. Bangunan ini merupakan sayap kanan kiri bangunan utama (wing buildings).
  5. Halaman. Kamar-kamar di Candra Naya dibuat menghadap halaman utama di tengah bangunan. Selain itu, di bagian kanan dan kiri, di depan bangunan sayap, juga terdapat halaman. Halaman utama di depan bagian belakang bangunan yang bertingkat dua tadi dilengkapi gazebo.

This slideshow requires JavaScript.

Teras depan dengan papan nama bertuliskan Candra Naya. Pintu dan kusen dicat hijau dengan ornamen keemasan. Lampion dan aksesori khas Tionghoa lainnya bergelantungan di langit teras. Di atas kusen pintu terdapat ornamen keemasan berupa ukiran rusa dan angsa. Warna keemasan adalah lambang kekayaan dan kemakmuran. Pada dinding kanan ada tulisan yang berisi sejarah Candra Naya, sedangkan tulisan pada dinding kiri menceritakan sosok Mayor Khouw Kim An, pemilik dan penghuni awal bangunan ini. Pajangan kayu akan digunakan sebagai dudukan keramik Tiongkok yang hendak dipamerkan. Selain sebagai tempat pameran, kadang juga ada pertunjukan Wayang Potehi di sini.

Di bawah dua aksara Tionghoa keemasan pada pintu yang terbuka, terdapat pengetuk pintu besi bulat dengan ornamen penolak bala berbentuk segi delapan yang disebut Pa Kua, melambangkan empat penjuru angin dan empat penjuru angin tambahannya. Pa Kua dipercayai mampu mengusir roh jahat dan melindungi penghuninya dari pengaruh buruk. Struktur kayu pada langit-langit ruangan dan ragam hias bagian dalam gedung Candra Naya yang berupa buku, kecapi, papan catur dan gulungan lukisan, dianggap menjadi perlambang bahwa pemilik rumah ini adalah seorang cendekiawan yang kaya. Di langit-langit rumah juga terdapat ornamen dua ekor naga yang berwarna keemasan.

This slideshow requires JavaScript.

Ruang depan yang dulu tempat menerima tamu, dengan foto Khouw Kim An semasa berpangkat kapten dan setelah menjadi mayor di kiri kanan tembok (tak terlihat pada foto). Khouw Kim An lahir di Batavia pada 5 Juni 1879. Ia fasih berbahasa Belanda meskipun dididik di sekolah Hokkien. Khouw Kim An menjadi salah satu pendiri Tiong Hwa Hwe Kwan Jakarta yang berdiri pada 1900. Pada 1905 Khouw Kim An diberi pangkat letnan oleh Belanda, dan tiga tahun kemudian ia dipromosi menjadi kapten, dan naik pangkat lagi menjadi mayor pada 1910. 

Ornamen sepasang singa berwarna keemasan di langit-langit bagian dalam Gedung Candra Naya Jakarta. Ragam hias lainnya pada struktur kayu adalah suluran, bunga, buku, kecapi, papan catur dan gulungan lukisan yang menjadi perlambang bahwa pemilik rumah adalah seorang cendekiawan kaya. Selain sebagai tempat pameran, di ruang ini juga kadang diselenggarakan pertunjukan Wayang Potehi.

Salah satu struktur yang istimewa dari Candra Naya adalah bentuk atap melengkung bergaya Tionghoa yang kedua ujungnya terbelah dua, disebut “Yanwei” (‘Ekor Walet’). Struktur atap yang melengkung ini, yang juga terdapat pada bangunan kelenteng, menandakan status sosial penghuninya. Pada pemisah antara halaman depan dan halaman samping, terdapat jendela penghubung yang disebut jendela bulan atau moon gate.

Beberapa ornamen yang menempel pada gedung ini adalah Ba Gua (‘Delapan Diagram’) yang berupa pengetuk pintu berbentuk segi delapan untuk penolak bala, hiasan berupa jamur lingzhi pada pintu masuk utama yang melambangkan umur panjang, dan ragam hias bergambar buku, papan catur, kecapi, dan gulungan lukisan di bagian atas teras depan yang melambangkan sang pemilik rumah adalah seorang cendekiawan (scholar) disamping seorang hartawan


Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Candra_Naya
http://budirahmat-sukses.blogspot.com/2012/
https://www.aroengbinang.com/2018/02/gedung-candra-naya-jakarta.html
https://galontrip.com/2018/04/06/candra-naya-from-majors-house-to-nations-heritage/
https://jakartabytrain.com/2014/03/05/gedung-candra-naya-tersembunyi-di-tengah-gemerlap-novotel/
https://www.jawapos.com/metro/metropolitan/16/02/2018/gedung-candra-naya-ungkap-sisi-sejarah-tionghoa-di-jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s